Menurut Alvin Toffler perubahan ekonomi global dikelompokkan mejadi tiga periode yaitu :
|
Gelombang Pertama
|
Gelombang Kedua
|
Gelombang Ketiga
|
|
8000 BC - 1750
|
1750 - 1970
|
1970 - 20XX
|
|
Agriculture Economy
|
Industrial Economy
|
Knowledge Economy
|
|
Lands
|
Machines
|
Information Technology
|
|
Physical Labors
|
Blue-Collar Workers
|
Knowledge Workers
|
Pada era industrial economy muncul ditandai dengan adanya revolusi industri, sedang pada era knowledge economy ditandai dengan munculnya revolusi pada teknologi komputer dan komunikasi. OECD mendefinisikan knowledge economy (ekonomi pengetahuan) sebagai suatu ekonomi yang secara langsung didasarkan pada produksi, distribusi, dan penggunaan knowledge dan informasi. Sementara Hossain dan Cheng Ming (2004) mendefinisikan sebagai kegiatan ekonomi di mana ada proses produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan yang berkelanjutan, serta adanya siklus memperluas pengetahuan terus-menerus untuk penciptaan kesejahteraan.
Implementasi dan peningkatan keunggulan dalam ekonomi pengetahuan melibatkan beberapa aktivitas dan komponen. Aktivitas dan komponen itu antara lain seperti disebutkan di bawah ini :
Aktivitas Ekonomi Pengetahuan
| Knowledge Production |
Aktivitas produksi didasarkan pengetahuan dan ide baru |
| Knowledge Distribution |
Aktivitas penyebaran pengetahuan di antara anggota masyarakat |
| Knowledge Consumtion |
Penggunaan pengetahuan untuk menciptakan nilai dan membuat pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada |
Komponen Ekonomi Pengetahuan
| Knowledge Organization |
Membuat, menerima, menyebarkan, mengelola, dan memanfaatkan pengetahuan |
| Knowledge Worker |
Kemampuan kreatif dan inovatif orang untuk menggunakan pengetahuan |
| Knowledge Goods |
Barang-barang yang berisi pengetahuan |
| Knowledge Service |
Service-service yang memiliki muatan kreativitas, ide baru, dan ketrampilan baru |
| Knowledge Asset |
Mencakup kreativitas, ide-ide dan pemikiran baru, skill, hak cipta, brain power, kemampuan inovatif, smart leadership, kemampuan kewirausahaan, brand, reputasi, pengakuan, dan know 1H & 5W. |
Dikaitkan dengan pembangunan pariwisata Indonesia di era ekonomi pengetahuan berarti sektor pariwisata kita perlu memfokuskan pembangunannya pada tiga aktivitas dan lima komponen tersebut di atas agar sektor pariwisata kita bisa unggul bersaing dengan negara lain. Pariwisata tidak hanya mengedepankan keindahan alam saja, banyak hal yang perlu kita kembangkan sebagai daerah wisata selain keindahan alam. Orang saat ini mungkin hanya mengenal Bali atau Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata karena dua daerah tersebut memang memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya. Lalu bagaimana dengan daerah-daerah di Indonesia yang memang tidak memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya ? Pada dasarnya kita bisa menciptakan daerah tujuan wisata menurut keunikan dan ciri khas daerah masing-masing. Sebagai contoh kita bisa mengembangkan empat model wisata yaitu :
- Wisata Budaya
- Wisata Belanja
- Wisata Kuliner
- Wisata Alam
Bertolak dari tiga aktivitas dan lima komponen ekonomi pengetahuan, untuk menggarap empat model wisata tersebut berarti kita perlu menghasilkan ide baru atau pengetahuan wisata baru. Orang yang selama ini hanya mengenal obyek wisata dari segi budaya dan keindahan alam bisa dikenalkan lebih lanjut mengenai potensi wisata belanja dan wisata kuliner. Pengetahuan mengenai jenis obyek wisata baru ini perlu kita sebarluaskan ke masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri. Yang untuk selanjutnya pengetahuan mengenai pariwisata ini diharapkan mampu menciptakan nilai dan dikonsumsi oleh masyarakat banyak.
Berkaitan dengan lima komponen ekonomi pengetahuan yang meliputi knowledge organization, knowledge worker, knowledge goods, knowledge service, dan knowledge asset
Poin yang kedua knowledge worker, pada bagian ini kita perlu meningkatkan kemampuan insan-insan pariwisata dengan pengetahuan yang memadai seperti perkerja seni, pemandu wisata, perajin batik, pembuat makanan khas/tradisional agar mereka mampu go internasional atau paling tidak kinerjanya sudah bertaraf international.
Poin ketiga knowledge goods, pada bagian ini setidaknya kita perlu mengedepankan dan memperkenalkan produk atau barang-barang yang memuat nilai pengetahuan seperti gamelan, kerajinan kain batik, seni wayang kulit, dan lain-lain.
Poin keempat knowledge service, pada bagian ini lebih dititikberatkan pada segi pelayanan. Segi pelayanan dalam industri pariwisata hendaknya bisa bertaraf internasional. Agen atau biro perjalanan wisata dan perhotelan perlu diupgrade sehingga mampu memberikan pelayanan yang memuaskan yang nantinya akan membuat para wisatawan merasa betah dan akan kembali lagi berkunjung ke Indonesia.
Poin kelima knowledge asset, pada bagian ini aset kebudayaan kita hendaknya perlu kita jaga dan kalau perlu dipatenkan sehingga kelak tidak muncul lagi pengakuan oleh bangsa lain akan aset budaya yang kita miliki. Generasi muda hendaknya bangga memiliki aset budaya yang adi luhung sehingga untuk masa yang akan datang tetap bisa mewarisi aset budaya yang sudah dimiliki oleh bangsa ini.
Untuk selanjutnya jika kesadaran kita dalam pembangunan sektor pariwisata di era ekonomi pengetahuan ini sudah meningkat maka sudah selayaknya sektor pariwisata bisa kita andalkan sebagai salah satu sumber devisa yang akan menggantikan pendapatan BBM jika kelak cadangan BBM kita memang sudah habis. Akhir kata majulah Indonesia dengan pariwisatanya yang mendunia.