Posts filed under 'Listrik'
BATERAI DARI NUTRISARI
Berawal dari ide bahwa larutan elektrolit bisa menghasilkan arus listrik jika dicelupkan logam tembaga dan seng sebagai kutub positif dan negatifnya, maka timbullah keinginan saya untuk bereksperimen secara kecil–kecilan. Sebagai informasi saya termasuk penggemar minuman instant seperti NutriSari dengan rasa jeruknya tersebut. Mengapa saya berani bereksperimen membuat baterai dari NutriSari karena setelah saya baca komposisinya terdapat kandungan pengatur keasaman jadi jika saya tambahkan air tentulah ia akan menjadi larutan yang bersifat asam.
Lalu langkah selanjutnya saya mencari logam tembaga dan seng yang akan saya jadikan kutub positif dan negatif. Pucuk dicinta ulam tiba ternyata di rumah masih ada sisa logam seng yang tidak terpakai maka segera saya potong untuk saya jadikan kutub negatif. Selanjutnya saya tinggal mencari tembaga untuk saya jadikan kutub positif. Untuk kabel tembaga saya sengaja beli kabel jenis NYA dengan diameter 2,5 mm2 (kalau tidak ada bisa kabel jenis NYM) di toko besi sepanjang 1 meter lalu saya potong kecil-kecil, setelah itu pada bagian ujungnya saya kupas sedikit supaya logam tembaganya bisa tercelup ke larutan asam yang sudah saya buat dari NutriSari.
Langkah terakhir saya tinggal beli kabel serabut dan jepit buaya di toko elektronik yang akan saya jadikan sebagai penghantar. Oh ya tak ketinggalan saya juga beli LED untuk saya jadikan sebagai beban apabila baterai NutriSari sudah bisa mengalirkan arus listrik.
Percobaan pertama, setelah larutan asam jadi saya masukkan seng dan tembaga ke dalam larutan tersebut. Karena saya merasa tidak yakin apakah eksperimen saya berhasil, maka saya coba mengukurnya dengan voltmeter apakah di antara dua kutubnya bisa menghasilkan beda potensial. Walhasil eksperimen saya berhasil walau dalam enam gelas larutan NutriSari hanya menghasilkan beda potensial sekitar 4,3 Volt. Dan kalau diukur dengan amperemeter menghasilkan arus sekitar 0,22 mA. Semula saya membuat larutan Nutrisari dengan air mentah dari PAM ternyata tidak mampu menyalakan LED. Tapi saya tidak kenal menyerah saya buat lagi enam gelas berikutnya dengan larutan yang sama tapi dengan air hangat yang sudah direbus dan ternyata bisa menyalakan LED saya tidak tahu kenapa. Mungkin di dalam larutan Nutrisari dari air PAM masih terlalu banyak kaporitnya sehingga larutan kurang begitu asam.
Namun saya belum menyelidiki sampai berapa lama LED akan tetap menyala dengan sumber tegangan enam gelas NutriSari tersebut. Apakah Anda tertarik bereksperimen seperti saya ? Silakan coba dengan larutan asam yang lain seperti asam sulfat atau asam khlorida atau asam-asam yang lain. Eeee … siapa tahu larutan dari asam Jawa juga bisa jadi baterai he he he ………
7 comments Juni 10, 2008
TARIF BARU PLN GOLONGAN R, B, DAN P
Tarif listrik tidak naik ? Ah yang benar saja, Bung ! Ini adalah respon singkat dari judul tulisan saya di atas. Seperti yang sudah saya tekankan di weblog saya ini bahwa saya konsen terhadap budaya hemat listrik. Tapi jika saya harus merespon terhadap tarif baru PLN untuk golongan R, B, dan P yang katanya tidak naik, apa jawaban saya ? Bisa Ya bisa Tidak. Lho kok plin plan gitu sih ? Sebentar saya menulis berdasarkan fakta berupa file yang dapat Anda unduh di link berikut ini. Dan saya juga sudah membuat perhitungan sederhana dengan Excel untuk tarif golongan R yang dapat Anda unduh di sini. Sebagai informasi saya dapat tabel di bawah ini dari situs http://borsalino.wordpress.com (Terima kasih Bang atas tabelnya).
Setelah dipikir-pikir maksud PLN menerapkan tarif baru ya memang kita disuruh berhemat dengan imbalan atau iming-iming berupa insentif yang mungkin menurut hemat saya masih kurang untuk beli bensin satu liter he he he he ……. Kenapa ? Kadang kita hidup cenderung boros kita bisa menghemat 10 kWh per bulan saja sudah bagus, Bung !
Jadi gimana nih musti berhemat atau boros ? Ya lebih baik berhematlah, kan
kata orang hemat pangkal kaya. Tapi kalau menyinggung iming-iming insentif yang diberikan oleh PLN saya rasa saya belum bisa untuk cepat jadi kaya. Pasalnya apa ? Setelah diitung-itung lagi insentifnya kecil, Bung ! Saya pelanggan PLN dengan tarif R1 – 900 VA pemakaian listrik bulanan saya ya sekitar 90 kWh padahal batas maksimum pemakaian untuk pelanggan tarif R1 – 900 VA adalah 92 kWh. Jadi saya menghemat 2 kWh saja, kalau saya hitung pakai perhitungan saya di Excel saya dapat insentif sekitar = 0,2 x 2 x Rp 495 = Rp 198,00 yah cuman bisa buat beli permen nih……
Tapi kalau saya bisa menghemat 10 kWh per bulan berarti dapat insentif sekitar = 0,2 x 10 x Rp 495 = Rp 990,00 yah lumayan.
Namun lepas dari itu saya lebih konsen jika penghematan 10 kWh itu dilakukan oleh sekitar 100 ribu pelanggan golongan R1 – 900 VA berarti PLN memberikan insentif total sekitar = 100.000 x Rp 990,00 = Rp 99 juta. Mungkinkah ini terjadi ? Lalu bagaimana dengan PLN akan tetap rugi atau laba ? Wah kalau urusan ini ya jangan ditanyakan ke saya. Tanya saja sama Pak Dirut PLN. Apakah sekarang PLN benar – benar sedang rugi atau aman – aman saja. Nah saya rasa sekian dulu tulisan saya, jika ada salah hitung dari file Excel yang saya buat mohon dikoreksi. Saya tunggu respon dari Anda. Terima kasih.
4 comments April 19, 2008
PLUS MINUS PLTN
PLTN menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan ketika kita dihadapkan pada masalah krisis energi. Mengapa ? Sesuai dengan teori PLTN dapat menghasilkan energi listrik yang sangat besar hanya dengan bahan bakar yang minimal dan ini bisa kita jadikan alternatif pengganti pembangkit listrik yang tergantung terhadap BBM.
Namun masalahnya tidak hanya sampai di sini saja. Ada beberapa hal yang masih perlu kita pertimbangkan untuk beralih ke teknologi PLTN ini. Saya pribadi yakin banyak pakar kita yang mungkin sudah menguasai teknologi reaktor nuklir, ini terbukti dengan berdirinya BATAN yang tentunya memiliki reaktor nuklir untuk keperluan riset.
Di sini saya tidak akan menyinggung masalah bocornya reaktor nuklir di Cernobyl, Rusia pada April 1986. Pada tulisan ini saya hanya akan lebih memfokuskan pada masalah penanganan sampah nuklir. Dari beberapa literatur yang saya baca reaktor nuklir menghasilkan sampah seperti Plutonium – 239; Cesium – 137; dan limbah radioaktif lainnya. Yang saya pikirkan adalah mengenai waktu paruh dari isotop sampah radioaktif tersebut yang umumnya sangat lama. Andaikan tiap satu reaktor PLTN menghasilkan sampah radioaktif dengan laju penimbunan 20 meter kubik per tahun. Bayangkan berapa meter kubik sampah yang akan tertimbun jika semakin banyak reaktor nuklir didirikan. Sementara dengan waktu paruh yang cukup lama sampah tersebut juga akan luruh dengan waktu yang cukup lama pula.
Mungkin para pakar sudah memikirkan teknologi penyimpanan atau penanganan sampah nuklir ini tapi sampai di mana keefektifan teknologi tersebut ?
Belum lagi mengenai SDM sebagai operator PLTN sudahkah memiliki kedisiplinan yang tinggi ? Tapi jika seandainya bangsa ini tetap akan menerapkan teknologi PLTN, saya rasa masih banyak poin–poin untuk kita renungkan. Saya bukan tidak setuju dengan PLTN, saya cenderung di pihak netral. Karena saya yakin teknologi akan selalu berkembang dan berkembang. Sebab untuk mengatasi krisis energi saya rasa bukan hanya PLTN saja, masih banyak alternatif lain yang mungkin memiliki resiko yang lebih kecil. Seperti panas laut, panas bumi dan lain sebagainya.
Add comment Januari 21, 2008
Kualitas Daya Listrik
Materi ini merupakan materi yang hangat untuk dibicarakan. Mengapa ? Karena saat ini banyak peralatan listrik yang memakai komponen tak linier. Salah satu penyebab buruknya kualitas daya listrik karena beban tidak linear ini. Bagi yang ingin memiliki software simulasi tentang Kualitas Daya Listrik silakan download di halaman DOWNLOAD.
Add comment Januari 18, 2008












